RINDU TERHEBATKU
RINDU TERHEBATKU
oleh : paulinus hendrik
Hay kamu senja di saat fajarku. Apakah kamu
tahu bahwa aku sekarang sedang merindu. Merindu sesosok dirimu dalam dinginnya
kelam malam. Malam bergulai syahdunya rembulan. Mereka menatapku dengan
senyuman. Akankah senyuman itu ada atau malah sebaliknya? Kamu yang juga
merindu jangan pernah bosan dengan kerinduan itu. Karna rindu datang dari hati
yang terdalam. Bukan datang dari ke sengajaan pribadi. Rindu yang berat akan
semakin berat, rindu yang ringan akan semakin memudar. Rindu berat untukmu. Tak
akan pernah aku impikan secuil rindu ringan itu untuk dirimu. Secuil kenengan
bersamamu tak akan pernah aku piaskan. Dan bahkan sebutir bedu pun tak dapat
mengotori banyangmu. Aku disini yang sedang merindu. Akan bau semerbak tubuhmu,
akan secerah wajahmu, akan sebening cintamu, akan segala warna dalam hidupmu.
Aku merindukan segalanya darimu.
Bibir yang merah muda, pinggul yang berbentuk
guci, pipi yang selembut sutera, tangan yang sehalus embun, pelukan yang
seperti karet ketat. Dan semerbak cinta yang kamu bawakan untukku. Aku
merindukan segalanya. Dari hal yang membuatku bertahan hingga hal yang
membuatku menengis. Aku merindukan dirimu, secuil demi secuil kata rindu itu
aku berikan. Karna aku ingin kamu tahu juga bahwa sekarang aku sedang merindukan
kamu. Kamu memang jauh, tapi bagiku kamu adalah anugrah yang tuhan titipkan
untuk menjaganya. Menjeganya adalah pedoman dalam hidupku, yaitu kamu. Kamu
yang pernah hadir dalam mimpiku, kini hadir dalam hidupku. Tanpa aku sadari
bahwa aku telah lama memilikimu dan memikirkan kamu. Salam rindu dari aku yang
jauh. Persinggahan terakhirku adalah menjadi panglima dalam hidupmu.
Karna aku tak tahu harus bagaimana menjaganya. Kamu mawar hitam yang harus
selalu hidup di jiwaku. Pikiranku tak mungkin pernah kosong, karena kamu selalu
hadir dalam denyut rindu ini.
Tanganmu, tanganmu pernah membasuh rindu ini
dengan belaian. Matamu, matamu pernah menatap rindu ini dengan pasti. Dirimu,
dirimu tak dapat aku lawan lagi karena rindu yang teramat dalam. Hingga tak ada
bahan untuk mengukurnya selain bertemu. Pertemuan, pertemuan kita bukanlah
akhir dari segala perjumpaan, tetapi awal dari kerinduan yang melanda. Rindu
adalah penyakit terhebat dalam LDR. Penyakit dimana tak ada seorang pun yang
mampu melawannya. Rindu terhebatku adalah saat bermimpi dan mengimpikan tentang dirimu.
Salam terhebatku adalah saat kamu melambaikan tangan pertemuan dan perpisahan.
Karena jarak dan ruang yang kelam. Tapi tidak dan bahkan bukan alasanku untuk
berhenti merindukan kamu. Justru itulah yang membuat rindu ini semakin berat,
berat dan sangat berat. Hingga aku tidak tahu bagaimana harus menangis karena
rindu.
selesai…. (:
untuk valaria yupita rita





Komentar